Cerita Dewasa Denyutan Beradu Kelamin

Posted on
MPO878

Cerita Dewasa Denyutan Beradu Kelamin – Pada saat itu Pak Reza sedang meremas buah dada Lisa dan Lisa mengocok penisku namun Andi tak mau melakukan hal itu, dia tetap serius mengocok Lisa sampai berulang kali dia menggeliat ketika Andi mengocoknya dengan keras. “Lisa sudah mendapatkan tiga penis, di mulut maupun vagina, tapi aku baru dua, itupun kurang memuaskanku” teriak batinku.

Kupandangi wajah Andi ketika mengocok Lisa begitu tampan dan keren, ekspresinya tidak berubah seperti biasa saja kecuali keringatnya yang meneteskan keringat pada tubuh yang atletis sehingga membuat seksi. Belum sekalipun Andi menyentuhku, entah dia mau menghukumku atau karena segan, aku tak tahu.

Agen878

Kuhibur diriku dengan berkonsentrasi pada kocokan Pak Reza, aku tak mau tersiksa terlalu lama mengharapkan Andi, maka kugerakkan pinggangku ke belakang Pak Reza dan hasilnya sungguh luar biasa, dia bergerak semakin liar dan akhirnya tak bisa bertahan lama, maka menyemprotlah spermanya ke vaginaku dengan kencangnya, kurasakan detakan yang keras dari penisnya di dalam vaginaku seolah menghantam dinding rahimku. Bersamaan dengan Semprotan Pak Reza, ternyata Pak Edwinpun menyemprotkan spermanya di muka Lisa, sperma itu menyemprot kemana mana baik di mulut, muka dan lain-lain. Pak Reza menarik penisnya yang sudah lemas begitupun dengan Pak Edwin, aku belum mencapai orgasme, hanya satu penis yang masih berdiri yaitu Andi, akhirnya aku harus mengalahkan gengsiku yang dari tadi mencegahku.

Kuhampiri Andi yang sedang menyocok Lisa, dari belakang kupeluk hingga punggungku menempel di punggungnya, keringat kami menyatu, aku elus di bidang administrasi. Sesaat dia menggerakkan gerakannya tapi kemudian dilanjutkan dengan lebih keras.

Merasa belum mendapat tanggapan darinya, aku bergeser ke depan, kujilati meletakkan sambil mengelus kantung bolanya, Andi tetap tak mau menyentuhku malah semakin cepat mengocok Lisa, maka kupegang tangan dan kuletakkan di dadaku, kugosok gosokkan, barulah dia mulai merespon dengan remasan halus tanpa berhenti mengocok Lisa, lalu kucium mimpi, tanpa kuduga dia langsung mengendalikan dan diciumnya bibirku dengan penuh gairah, penuh gairah, seperti orang melepas rindu berat, mungkin dari tadi Andi memang menginginkanku tapi tidak berani.

Ciuman pada bibirku yang penuh nafsu tak terhentikan kocokan pada Lisa, lalu turun ke leherku sebagai selanjutnya dan berhenti di kedua putingku.

Konsentrasiku terganggu ketika kudengar teriakan dari Lisa yang sedang mencapai kenikmatatan tertinggi, dia mengalami orgasme dengan hebatnya, terlihat bergetar hebat dan digoyang goyang seperti orang yang kesetanan, beberapa detik kemudian tubuhnya melemas di atas kursi dengan napas terputus-putus. Bersamaan dengan ditariknya penis dari vagina Lisa, dia mendorong penis ke bawah lalu disodorkannya penis besar itu agak ragu-ragu tapi kemudian tanpa membuang waktu lebih lama dari penis anak buah kepercayaan itu, seperti dugaanku ternyata tak mampu mengulum penis itu semuanya, lalu kukocok pelan, aroma dari vagina Lisa tercium olehku tapi tak kupedulikan, Andi mengawasi dan mengocokkan penisnya di mulutku dengan pembohong, hampir aku tak bisa bernapas.

Lisa sudah duduk di antara Pak Edwin dan Pak Reza, kemudian Andi memintaku duduk di kursi, dipegangnya kedua kakiku dan dipentangkannya, kuraih penis besar yang dari tadi kuimpikan, kusapukan di bibir vaginaku dan kuarahkan masuk, ternyata Andi tak mau terlalu lama bermain di luar , dengan keras di sodoknya penis besar itu masuk ke vaginaku.

“OOUUGGHHh” teriakku spontan lalu kututupi mulutku dengan tangan sambil melotot ke arahnya.
Vaginaku terasa penuh hingga aku tak berani menggerakkan tubuhku, tapi Andi seperti tak peduli, langsung mengocokku dengan dan keras, kurasakan penisnya menggesek seluruh dinding dan mengisi semua rongga di vaginaku, begitu nikmat hingga seolah aku melayang layang dalam kenikmatan birahi yang tinggi. Kakiku kujepitkan di pinggangnya, kedua tanganku meremas dengan keras kedua buah dadaku dan memilin ringan putingku sambil mencium bibirku dengan ganasnya.

Foto-Igo

Begitu pembohong dan ganas dia mencumbuku seolah menumpahkan segala dendam yang lama tesimpan, kocokannya yang keras seolah mengaduk aduk vaginaku. Kulawan gerakannya dengan menggerakkan pinggulku secara acak, dan aku mendapatkan kenikmatan yang bertambah.

Entah sudah berapa lama kami bercinta di kursi hingga memintaku untuk rebah di karpet lantai ruangan, lalu segera menyetubuhiku, tubuh atletisnya menindih tubuh sambil pantatnya turun naik mengocok vaginaku, ciumannya sudah menjelajah ke seluruh wajah dan leherku tanpa bagian yang terlewatkan.

Aku mengagumi kekuatan fisik Andi yang begitu kuat, AC tak mampu mencegah peluh kami sudah bertetesan di seluruh tubuh. Kuraih kenikmatan demi kenikmatan dari setiap gerakan Andi di atas tubuhku.
Selanjutnya kami bergulingan, kini Andi telentang dan aku duduk di atasnya, kugoyangkan pantatku mengocok penis Andi, goyanganku kubuat tidak aturan dan banyak variasi hingga dia menggigit mimpi, melihatnya, lalu kembali ke dadaku dengan kerasnya, tanpa kusadari ternyata Pak Reza sudah berdiri di sampingku dan menyodorkan penisnya ke mulutku, kugapai dan langsung kukulum dengan semangat sambil tetap menggoyang pantatku. Pak Reza ternyata tak mau diam saja, dia ikut mengocokkan penisnya di mulutku sambil memegangi. Tak mau kalah Andi kemudian ikutan menggoyangkan pinggulnya hingga kami seolah-olah menikmati birahi.

Andi duduk hingga menghadap ke dalam pangkuannya, kujepitkan kakiku di pin g sambil tetap menggoyangkan pantat tanpa melepaskan kocokan mulutku pada penis Pak Reza, Dan menjilati seluruh leher dan dadaku, disedot dengan keras, kurasakan di sekitar buah dada daningku tapi tak kuperhatikan.

Akhirnya kurasakan tubuh Andi menegang dan sedetik kemudian kurasakan kepalanya membesar melewati rongga dalam vaginaku menyemprotkan spermanya, sementara dan sedotan di dadaku semakin kuat, kecepatannya membuat akupun terbang ke puncak kenikmatan, maka akupun orgasme saat penis sedang berdenyut dengan hebatnya di vaginaku, kami sama sama menggapai orgasme dalam waktu yang relatif bersamaan, aku sudah mulai melemas tapi penis Pak Reza masih di tangan, maka kukeluarkan kemampuanku untuk mengembangkan kemauan Pak Reza masih duduk di atas Andi, tangan Andi masih meremas dengan lembut kedua buah dadaku, tapi konsentrasiku hanya tertuju ke Pak Reza, tak lama kemudian berdenyutlah penis Pak Reza di mulutku, tak kurasakan cairan sperma keluar dari penis itu,hanyaan denyutan ringan hingga melemas dengan sendirinya.

Aku terkulai lemas di atas tubuh Andi, anak buahku itu, dan dia membalas dengan ciuman dan punggung punggungku, beberapa saat kemudia aku tersadar dan berdiri sendiri, duduk kembali di kursi kursi
Lisa memberikan teh hangat, kami semua masih telanjang, masih kurasakan seolah-olah penis Andi masih mengganjal vaginaku.

Baru saya sadari ada empat titik memerah Andi pada dada dan sekitar buah dadaku, kulirik Andi tapi dia tidak memperhatikan.
Jarum jam memang menimpakan pukul 13:30, ketika kami memandang kontrak itu dalam keadaan telanjang, Pak Reza memandangku itu dan di atas pangkuan Pak Reza pula akunya. Sementara Pak Edwin sebagai saksi, ikut kontrak itu sambil memangku Lisa yang masih telanjang.

Baca Juga : Cerita Sex Anak Cheers Ngentot Dengan Om-Om

“Alangkah asiknya kalau kita bisa makan siang bersama sambil telanjang” usul Pak Edwin
Aku hanya tersenyum menanggapi usulan nakal Pak Edwin,  kukenakan kembali pakaianku meski tanpa celana dalam karena diminta Pak Edwin yang masih bujangan itu.
Tak lama kemudian kami semua sudah berpakaian lengkap, kubereskan dokumen yang berserakan di lantai maupun meja dan kuberikan semuanya ke Andi.
Dan selesailah official meeting hari ini.

Sebenarnya aku tak mau mencampur adukkan antara bisnis dan kesenangan seperti ini, baru pertama kali terjadi. Awal bisnis yang di awali seperti ini terus terang membuat aku takut, tapi apa bedanya dengan para bisnisman lainnya yang memberikan wanita cantik untuk dapat mendapatkan proyek, toh proyek itu jalan juga.

Setelah makan siang, aku dan Andi mengantar mereka hingga ke lobby dan disanalah kami berpisah, Aku dan Andi naik ke atas, tak ada pembicaraan sepanjang jalan ke kamar meskipun di lift Cuma kami berdua, suasana menjadi kaku, hal seperti inilah yang tidak aku inginkan.
“Andi apapun yang telah terjadi adalah tidak pernah terjadi, tolong camkan itu demi kebaikan kita semua” kataku pada Andi sambil mengecup bibirnya, sebelum dia masuk kamarnya.

Dan kami kembali ke Jakarta sebagai mana tidak terjadi sesuatu kecuali kenangan indah.

Aku tidak pernah bisa memenuhi kata kataku sendiri seperti yang aku pesan di atas, karena bercinta dengan Andi terlalu nikmat untuk di tinggalkan.

Joker338