Cerita Dewasa Hamilin Tante Sampai Hamil

Posted on
MPO878

Cerita Dewasa Hamilin Tante Sampai Hamil – Pada waktu itu aku masih 16 tahun dan aku masih menjadi seorang murid yang bertempat duduk di kelas 1 SMK yang ada di sebuah kota Jawa timur, panggil saja namaku Dedi dan aku lahir di dekat sebuah perkebunan Apel yang di rawat oleh 4 orang laki-laki. Aku anak nomer tiga. Dan yang menjadi masalah pada kehidupan remajaku. Emang jarang bergaul dengan perempuan selain ibuku, tante juga nenekku jadi tidak nyaman kalau dekat dengan perempuan, cwe sebayaku.

Maklumlah di sekolahku umumnya juga cowok lebih jarang cewek. Selain itu Aku tinggi 160cm dan hitam. Karena tampangku yang mirip Negro, teman memanggil aku Drogba, karena aku suka main sepakbola.

Agen878

Dari tampilan ini jarang cewek mendekatiku, bahkan mendekati cewek agak canggung. Walaupun sebenarnya ingin sekali punya pacar. Bukan pacar sembarang pacar, but pacar yang cantik dan sexy. Dan ini masalah lingkunganku masih pedesaan, sekarang hampir tidak ada desa menjadi kota. Dan baru waktu itu di lingkungan tempat aku tinggal. Pergaulan antara lakilaki dan perempuan yang sedikit mencolok menjadi sorotan masyarakat. Dan jadi bahan gunjingan ibuibu antar tetangga.

Walaupun aku kurang tampan, setidaknya aku manfaatin kelebihanku tubuh berotot dan memiliki penis besar dan panjang dari ukuran ratarata. Dan setiap masalah melihat perempuan cantik syahwatku naik. Apalagi melihat paha. Aku bisa tak mampu berpikir apaapa lagi kalau gadis dan perempuan cantik itu lewat di depanku. Senjataku langsung tegang kalau melihat dia berjalan berlenggaklenggok dengan panggul yang berayun ke kiri dan ke kanan. Ngaceng abis kayak siap berlaga. sering tegang dari luar dan sering bikin malu.

Luluk adalah murid salah satu orang pendatang di desaku. Kecantikannya jadi buah bibir para cowok seantero kecamatan. Dia tinggal dalam jarak beberapa rumah dari rumahku, jadi tetanggaku juga. Aku berharap sekali berharap Luluk jadi pacarku, tapi mana bisa. Cowokcowok keren termasuk anakanak penggede, kepala desa, kamituwo, bayan, anak pak camat pada ngantri ngapelin dia, mencoba menggunakan pacar. Hampir semua mobil bawa, kadang mobil dinas bapaknya, mana mampu aku bersaing dengan mereka.

kadang-kadang kami berpapasan jika ada kegiatan RT atau kendurian, tetapi saya tidak berani menyapa, dia juga tidak ingin tertarik dengan saya yang muka jelek dan hitam pula. Ya pantaslah, karena cantik dan dikejarkejar banyak pemuda dia jadi sombong, mentangmentang. Atau mungkin itu hanya alasanku saja. Aslinya aku juga takut sama perempuan cantik. Berdekatan dengan mereka aku paru, mulutku terkatup gagu dan nafasku sesak. Itulah Luluk.

Dan ada satu lagi perempuan yang juga membuat saya gelisah jika berada di lingkungan terdekat. Tante Mei, ibu luluk yang juga samasama cantik. Ayah luluk pemasok beberapa bahan kebutuhan perkebunan Apel. Karena itu sering. Kadang ke Jakarta, Medan dan ke Singapura. Belum lama mereka menjadi tetangga kami. Entahlah orang dari daerah mana suaminya ini.

Tapi aku tahu Luluk dan Tante Mei dari Bandung, dan dia ini wuahh mak sungguh-sungguh mantap cantiknya. Wajah Putih. Bodinya juga bagus, dengan panggul berisi, paha kokoh, dan pinggang ramping. Payudaranya juga indah kenceng serasi dengan bentuk tubuh. Pernah di acara pentas terbuka di kampungku kala tujuh belas agustusan dia menyumbangkan peragaan nyanyi dangdut di desaku. Wah aku betul betul terpesona.

Dan Tante Mei ini juga akrab dengan ibuku. Walau lebih muda dari ibuku, tapi mereka cocok satu sama lain. Dan satu kebiasaan yang pada Tante Mei ini, dia tidak suka pakai bra. Pernah ku dapati Tante Mei lagi rebahan ngobrol dengan ibuku. dia tidak mengira aku suka curicuri pandang, aku sudah sempat melihat celah pandang yang putih padat tanpa melihat branya yang terlihat bagus cembung.

Aku mereguk ludah, kontolku kontak berdiri. Tanpa bicara apapun aku ke kamar, ku kocok kontolku sambil membayangkan Tante Mei. Dan sejak saya sering ngintip dan penasaran pemandangan setiap kali mereka ngobrol. Setiap Tante Mei, saya sering purapura baca buku/Quran untuk melihat pemandangan seksi Tante Mei.

Oh ya mengenai Tante Mei sering kurang puas klo main sama suaminya saat di rumah. Saya mendengar ini kadang jadi keluhkesahnya pada ibuku. Aku tidak tahu benar mengapa dia sering mengeluh dengan ibuku, dan apa yang terjadi dengan suaminya.

Pada saat liburan suatu hari saat suami Tante Mei (Om Joko) ngajak berangkat sekeluarga Luluk dan Tante Mei ke Singapura. Tapi Pas Mau Pergi Tante Mei demam, jadi membuat tiketnya, asalkan memutuskan menggagalkan tapi Luluk merasa sedih akhirnya berangkatlah mereka berdua di tinggal sendiri di rumah. Sepanjang hari setelah suami dan anaknnya berangkat Tante Mei sering tidur di rumahku. Dia takut sekali dan merasa kesepian di rumah.

Suatu hari ketika aku pulang dari sepakbola, ibu memanggilku. Katanya Tante Mei takut tidur sendirian di rumahnya karena suami dan anaknya pergi. Dan pembantunya sudah dua minggu dia berhentikan karena kedapatan mencuri. Karena itu dia menyuruhku tidur di ruang tamu di sofa Tante Mei Mulamula aku bertanya dan bertanya mengapa bukan salah seorang dari adikadikku. Kukatakan aku mesti latihan besok pagi persiapan siap.

Yang sebenarnya sudah seperti yang saya katakan sebelumnya, saya selalu sibuk dan tidak khawatir jika dekat dengan Tante Mei (tapi tentu saja ini tidak mengatakan pada ibu). Kata ibuku adikadikku yang masih kecil tidak akan membantu membuat Tante Mei.

Lalu malamnya aku pergi ke rumah Tante Mei lewat pintu belakang. Tante Mei gembira saya datang. Dia mengenakan daster tipis yang membalut ketat tubuh yang sintal padat.

Mari makan malam Ded, ajaknya membuka tudung makanan yang sudah terhidang di meja.
Saya sudah makan, Tante, kataku, tapi Tante Mei paksa saya untuk makan juga.
Dedi, kamu kok pendiam sekali ? Lain dengan adikadik dan ibumu, kata Tante Mei selagi dia menyendok nasi ke piring.

Aku sulit mencari jawaban karena sebenarnya aku tidak pendiam. Aku tak banyak bicara hanya kalau dekat Tante Mei saja, atau Luluk atau perempuan cantik lainnya. Karena Re.

Tapi Tante suka orang pendiam, sambungnya.

Kami makan tanpa banyak bicara, habis itu kami menonton televisi acara panggung musik pop. Kulihat Tante Mei rebahan sampai secara sadar menaikkan ketinggian sofa, melihat celana dalamnya. Bikin hatiku seerrrr.

Karena tiba-tiba Tante Mei ngajak obrol ku mematikan televisi dan lalu bicara, dan tante menanyakan sekolahku, kegiatanku seharihari dan apakah aku sudah punya pacar atau belum. Aku menjawab singkatsingkat saja seperti orang bloon. Kelihatannya dia memang ingin mengajak aku terus bercakap karena dia takut pergi tidur sendirian di kamarnya. Namun karena melihat aku menguap, Tante Mei pergi ke kamar dan kembali membawa bantal, selimut dan sarung.

Di rumah saya biasanya memang tidur hanya memakai sarung karena penisku sering tidak mau kompromi. Tertahan celana dalam saja bisa menyebabkan saya merasa tidak enak bahkan di dalam. Tante Mei sudah masuk ke kamarnya dan aku baru menanggalkan baju sehingga tinggal singlet dan meloloskan celana blujins dan celana dalamku menggantinya dengan sarung ketika hujan disertai angin kencang terdengar di luar.

Aku membaringkan diri di sofa dan menutupi diri dengan selimut wol tebal ketika suara angin dan hujan Seningkah gemuruh guntur dan sabun petir menyabung. Angin juga kencang dan hujan semakin deras sehingga rumah itu seperti bergoyang. Dan tibatiba listrik mati sehingga semua gelap gulita.

Kudengar suara Tante Mei memanggil di pintu kamarnya.

Iya, Tante?
Tolong temani Tante mencari pengirim.
Dimana Tante?, aku mendekat merabaraba dalam gelap ke arah dia.
Di laci di dapur. Tante mau ke sana. Tante baru diucapkan saat kalimatnya menyentuh tangan yang empuk.

Ternyata bertahan. Cepat kutarik mata.

Saya kira kita tidak memerlukan pengirim Tante. kita sudah mau tidur? Saya sudah sekali sekali.
Tante takut tidur dalam gelap Ded.
Bagaimana kalau saya temani Tante supaya tidak takut ?, aku sendiri terkejut dengan katakata yang keluar dari mulutku, mungkin karena sudah ngantuk banged.

Tante diam beberapa saat.

Di kamar tidur Tante?, tanyanya.
ya. saya tidur di bawah, kataku. di karpet di lantai.
Seluruh lantai kamar tante memang menutupi karpet tebal.
Di tempat tidur Tante saja sekalian asal ..

Aku terkesiap.

Asal apa Tante?
Asal kamu jangan bilang sama luluk ato ibumu, Tante bisa dapat malu besar. Dan juga jangan sekalikali bilang sama om Joko.
Ah buat apa itu saya bilangbilang ? Tidak akan, Tante. Dalam hati aku melonjaklonjak kegirangan. Agen Judi Maxbet

Tak kusangka aku bakalan dapat durian runtuh, kesempatan tidur di samping Tante yang cantik banget. Siapa tahu aku nanti bisa nyenggolnyenggol dia sedikitsedikit.

Merabaraba seperti orang buta menjaga jangan sampai terantuk ke dinding aku kembali ke sofa mengambil selimut dan bantal, lalu kembali merabaraba ke arah Tante Mei di pintu kamarnya. Cahaya kilat dari kisikisi di puncak jendela membantu aku menemukan keberadaan dan dia membimbing aku masuk.

Ingin sekali aku merangkul tubuh empuknya tapi aku dia marah. Akhirnya kami berdua masalah berjajar di tempat tidur. Selama proses itu kami sama menjaga agar tidak terlalu banyak badan. Perasaanku tak karuan. baru kali ini aku pernah tidur dengan bahkan dengan ibuku sendiripun tak pernah. Perempuan cantik dan seksi lagi.

Kamu itu item tapi badanmu kok bagus Ded? bisiknya di sampingku dalam gelap.

Aku tak menjawab.

Seandainya kau tahu kontolku lebih keras lagi sekarang ini, kataku dalam hati.

Aku sedih miringkangi dia. Lama kami berdiam diri. Kukira dia sudah tidur, yang jelas aku tak bisa tidur. Bahkan mataku yang tadinya berat sekarang terbuka lebar.

Ded, kudengar dia memecah keheningan.
kamu pernah bersetubuh?

Nafasku sesak dan mereguk ludah.

Belum Tante, jawabku
Hmm.
Lucu kamu Ded, mau ama tenate ? dalam gelap kudengar dia nawarin gituan.

Aku hampirhampir tak percaya dia mengatakan itu.

Setubuhin Tante?
Iya. Tapi jangan dibilang pada siapapun.

Aku diam agak lama.

Dan akupun membalik-balik, nafsuku menggelegak. Aku tahu inilah kesempatan emas untuk melampiaskan hasrat berahiku yang terpendam pada perempuan cantikseksi selama bertahun-tahun usia remajaku. Rasanya seperti saya dapat peluang emas di depan gawang lawan dalam satu pertandingan final melawan kesebebelasan super kuat, dimana pertandingan bertahan 00 sampai menit ke85. Umpan manis disodorkan penyerang tengah ke arah kiri.

Bola menggelinding mendekati kotak penalti. Semua mengejar, kiper terjatuh dan aku tiba lebih dulu. Dengan kekuatan penuh kulepaskan tembakan geledek. GOL!

Rasanya ketika aku terburu-buru melepas sarungku dan menyerbu menanggalkan celana dalam Tante Mei . Lalu dalam gelap kuraih kaitan daster dipunggungnya, dia membantuku. Kukucup mulutnya. Kuremas buah penyerangan dan tak sabaran lagi kedua kakiku masuk ke celah kedua pahanya. Kubuka paha itu, kuselipkan paha kiriku di bawah paha kanannya dan dengan satu tikaman kepala kontolku menerjang tepat akurat ke celah memeknya yang basah.

Saya tancapkan terus. MASUK!

auhuuhhh terus Ded, erangan tante.

Aku menyetubuhi Tante Mei begitu tergesagesa. Sambil menusuk liang vaginanya, kedua buah itu terus kuremas dan kuhisap dan kupilin dan kulumat dengan mulutku. Mataku terbeliak saat penisku kumajumundurkan, kutarik sampai tinggal hanya kepala lalu kubenam lagi dalam mereguk nikmat sorgawi vaginanya. Kenikmatan yang baru pertama kali saya rasakan. Ohhhh ohhhh .

Tetapi malangnya aku, mungkin baru delapan kali aku menggenjot, itupun batangku baru masuk dua pertiga sewaktu dia muntahmuntah dengan hebat. Spermaku muncrat tumpah ruah dalam lobang kewanitaannya. Dan akupun kolaps. Badanku penuh keringat dan tenagaku rasanya terkuras saat kusadari bahwa aku pingsan. Aku sadar aku sudah keburu habis sementara merasa Tante Mei masih belum apaapa, apalagi puas.

Dan tibatiba listrik menyala. Tanpa kami sadari tampaknya hujan badai sudah reda. Dalam terang Tante Mei tersenyum disampingku. Aku malu. Rasanya seperti dia menertawakan aku. Lakilaki loyo. Main beberapa menit saja sudah loyo.

foto-igo.com

Lain kali jangan tergesagesa dong sayang, masih tersenyum. Lalu dia turun dari ranjang. Sebaiknya gunakan daster yang sempat kulepas pergi ke kamar mandi, tentunya hendaklah cebok membersihkan spermaku yang berlepotan di celah selangkangannya.

Keluar dari kamar mandi pangkal dia ke dapur dan akupun gantian masuk ke kamar mandi membersihkan penis dan penisku berserta menunjuk yang juga berlepotan sperma. Habis itu aku kembali ke tempat tidur. Apakah akan ada babak berikutnya? Tanyaku dalam hati. Atau aku memulai kembali ke sofa karena lampu sudah nyala?

Tante Mei masuk ke kamar membawa cangkir dan sendok teh yang diberikan kepada saya.

Apa ini Tante?
Telor mentah dan madu lebah madu yang sudah kamu keluarkan banyak tadi, katanya tersenyum nakal dan kembali ke dapur.

Akupun tersenyum gembira. presentasi akan ada babak berikutnya. Dua butir telur mentah itu beserta madu lebah campurannya kulahap dan lenyap ke dalam perutku dalam waktu singkat. Dan Kemudian Kemudian Tante Mei kembali membawa gelas berisi air putih.

Dan kami duduk bersisian di pinggir ranjang.

Enak Tante, bisikku dekat sekali telinganya.
Telor mentah dan madu lebah?, tanyanya.
Bukan. Main ma Tante enak sekali.
Mau lagi? tanyanya menggoda.
Iya Tante, mau, kataku tak sabar dengan langsungkan tangan di bahunya.
Tapi yang lambat ya Ded? Jangan buruburu seperti tadi.
Iya Tante, janji.

Dan kamipun melakukannya lagi. Walau di kota kabupaten aku tidak pernah nonton filem bokep Ada harga yang punya kepingan VCDnya. Dan aku tahu bagaimana foreplay dilakukan. Sekarang aku coba mempraktekkannya sendiri. Mulamula kucumbu dada Tante Mei , lalu lehernya. Lalu turun ke pusar lalu kucium dan kujilat ketiaknya, lalu kukulum dan kugigitgigit pentilnya, lalu jilatanku turun kembali ke bawah seraya kami meremasremas kedua payudaranya.

Lalu kujilat membelah vaginanya. Sampai disini Tante Mei mulai merintih. Kumainkan itilnya dengan ujung lidahku. Tante Mei mengangkatangkat panggulnya menahan nikmat. Dan akupun juga sudah tidak tahan lagi. Penisku kembali tegang penuh dan keras seolah berteriak memaki aku dengan marah Cepatlah tusuukk, berlehaleha lagi, jangan teriakkan tak sabar. Penis yang hanya pemandangan mau enaknya sendiri saja.

Aku di atas tubuh Tante Mei. Tangannya membantu menempatkan kepala penisku tepat di mulut lobang yang terkena videonya. Dan tanpa menunggu lagi aku menusukkan penisku dan membenamkannya sampai dua pertiga. Lalu kupompa dengan ganas.

Diiiiiiiit, rengeknya mereguk nikmat sambil merangkul leher dan punggungku dengan mesra.

Rangkulan Tante Mei membuat saya bersemangat dan terangsang. Pompaanku sekarang lebih kuat dan rengekan Tante Mei juga semakin manja. Dan kutancapkan seluruh batangku sampai ujung penisku sesuatu di dasar rahim Tante.

Sentuhan ini menyebabkan Tante menggeliatgeliat memutar panggulnya dengan ganas, meremas dan berdiri kontolku. Reaksi Tante ini menyebabkan aku kehilangan kendali. Aku bobol lagi. Spermaku muncrat tanpa dapat Senahantahan lagi. Dan kudengar Tante merintih kecewa. Kali ini aku keburu tersingkir selagi dia hampir saja mencapai orgasme.

Maafkan Tante, bisikku di telinganya.
Tak apaapa Ded, katanya menikmati aku. Dihapusnya peluh yang meleleh di pelipisku.
Ded, jangan bilangbilang siapapun ya ngomong ? Tante takut sekali kalau ibumu tahu. Dia akan marah sekali anaknya Tante makan, katanya masih tersengalsengal menahan berahi yang belum tuntas penuh.

Kontolku berdenyut lagi mendengar ucapan Tante Mei itu, apa memang aku yang dia makan aku yang memakan dia? Dan aku permainan pada kekalahanku barusan. Kelelakianku. Diamdiam aku untuk menaklukkan rasa pada kesempatan berikutnya, bukan dia yang memakan aku tapi akulah yang memakannya.

Aku terbangun pada kokokan ayam pertama. Memang kebiasaanku bangun pagipagi sekali. Karena aku perlu olahraga. Kupandang Tante Mei yang tergolek miring disampingku. Dia masih tidak bercelana dalam dan tidak berBH. Sebelah kaki menjulur dari belahan kimono di selangkangannya membentuk segitiga sehingga aku dapat melihat bagian dalam pahanya yang putih padat sampai ke pangkalnya.

Ujung jembutnya melihat juga melihat dari pangkal pahanya itu dan aku juga bisa di sebelah buah terdekat yang tidak menutup sprei. Aku sudah hendak menerkam mau menikmatinya sekali lagi sewaktu aku merasa desakan mau buang air kecil. Karena itu pelanpelan aku turun dari ranjang terus ke kamar mandi.

Aku sedang membasuh muka dan kumurkumur sewaktu Tante mengetok pintu kamar mandi. Agak kecewa kubukakan pintu dan Tante memberikan handuk bersih. Dia sodorkan juga gundar gigi baru dan odol.

Ini Ded, mandi saja disini, katanya. dia kira aku akan pulang ke rumahku untuk mandi? Goblok bener.

Akupun cepatcepat mandi. Keluar dari kamarmandi dan singlet dan handuk yang membalut tengkuk, kedua bahu dan lengan Tante sudah siap di dapur sarapan.

Ayo sarapan Ded. Tante juga mau mandi dulu, dia meninggalkan aku.

Kulihat di meja makan terhidang roti mentega dengan botol madu lebah Australia disampingnya dan semangkok besar cairan kental berbusa. Aku tahu apa itu. Teh telor. Segera saja kuhirup dan rasanya sungguh enak sekali di pagi yang dingin. Saya yakin paling kurang ada dua butir telor mentah yang dikocokkan Tante dengan pengocok telur disana, lalu dibubuhi susu kental manis cap nona dan bubuk coklat.

Lalu cairan teh pekat yang sudah diseduh untuk kemudian Senuang dengan air panas sembari terus dikacau dengan sendok. Lezat sekali. Dan dua roti mentega menyebar juga segera lenyap ke perutku. Kumakan habis selagi berdiri. Madu lebahnya kusendok lebih banyak.

Tante tidak lama mandinya dan aku sudah menunggu tak sabar.

Dengan hanya berbalut handuk Tante keluar dari kamar mandi.

Tante, ini teh telornya masih ada, kataku.
Kok kamu gak habiskan Ded? tanyanya
Tante kan juga memerlukannya , kataku tersenyum lebar.

Dia menerima gelas besar itu sambil tersenyum mengerling lalu mengalahkannya.

Saya kan dapat lagi ya Tante, menggoda. Dia minum lagi dari gelas besar itu.
Tapi jangan buruburu lagi ya? katanya tersenyum dikulum.

Dia minum lagi sebelum gelas besar itu dia kembalikan padaku. Dan aku mereguk sisa sampai habis.

Penuh hasrat aku mengangkat dan memodong Tante ke kamar.

Duh, kamu kuat sekali Ded, pujinya melekapkan wajah di dadaku.

Kubaringkan dia di ranjang, handuk yang membalut tubuh telanjangnya segera kulepas. Duhhh cantik sekali. Segalanya indah. Wajah, toket, perut, panggul, meqi, paha dan kaki. Semuanya putih mulus seperti artis JAV Jepang.

Semula aku ragu bagaimana memulainya. Apa yang harus kuserang dulu, karena semuanya menggiurkan. Tapi dia mengambil inisiatif. Dilingkarkannya di leherku dan dia dekatkan mulutnya ke mulutku, dan akupun melumat bibir seksinya itu. Dia julurkan lidahnya yang aku hisaphisap dan perasan airludahnya yang lezat kureguk.

Lalu kuciumi seluruh wajah dan lehernya. Lalu kuulangi lagi apa yang aku lakukan tadi malam. Meremasremas payu daranya, menciumi leher, belakang telinga dan ketiaknya, menambahkan dan menggigit sayang pentil susunya. Sementara itu tangan Tante juga merangkul punggung, mengusap tengkuk, dan meremasremas rambutku.

Lalu sebelum puas menjilat buah dada dan mengulum pentilnya, menciumku turun ke pusar dan terus ke bawah. Seperti kemarin aku kembalii jembut di vaginanya yang tebal seperti martabak Bangka, menjilat klitoris dan tidak lupa bagian dalam kedua pahanya yang putih. Lalu aku mengambil posisi seperti tadi malam untuk menungganginya.

Tante menyambut penisku di liang vaginanya dengan gairah. Karena Tante sudah naik birahi penuh, setiap tusukan penisku menggesek dinding liangnya tidak hanya dinikmati olehku tapi dinikmati oleh dia juga.

Setiap kali sambil menahan nikmat dia berbisik di telingaku Jangan buruburu ya sayang, ..jangan buruburu ya sayang. Dan aku berusaha mengendalikan diri dengan tenaga. Kuingat katakata pelatih sepakbolaku. Kamu itu main dua kali 45 menit, cuman setengah jam. Karena itu perlu juga latihan lari maraton.

Baca Juga : Cerita Dewasa Janda Membawa Kenikmatan

Dari pengalaman tadi malam kujaga agar penisku yang memang berukuran lebih panjang dari orang kebanyakan jangan sampai terbenam karena semuanya akan memancing reaksi tak terkendali dari Tante . Aku bisa bobol lagi. Aku menjaga hanya masuk dua pertiga atau tiga perempat.

Dan kurasakan Tante juga berusaha mengendalikan diri. Dia hanya menggerakkan panggulnya untuk menyambutnya kocokan batangku. Kerjasama Tante membantu saya. Untuk lima menit pertama aku menguasai bola dan lapangan sepenuhnya. Kujelajahi sampai dua pertiga lapangan sambil mengarak dan mendrible bola, sementara Tante berjaga-jaga menunggu serangan sembari melayani dan menghalau tusukantusukanku yang mengarah ke jaring gawangnya.

Selama 5 menit berikutnya aku meningkatkan tekanan. kadang-kadang bola kubuang ke belakang, lalu kugiring dengan mengilik ke kiri dan ke kanan, kadang-kadang dengan gerakan berputar. Kulihat Tante mulai kewalahan dengan taktikku. Lima menit berikutnya Tante memulai serangan balasan.

Dia tidak lagi hanya bertahan. Punggung kiri dan bek kanan memahami dengan gelandang kiri dan gelandang kanan, begitupun kiri luar dan kanan luar membuat gerakan menjepit barisan penyerangku yang membuat mereka kewalahan. Sambil merangkul dan menjepitkan paha dan kakinya ke panggulku Tante berbisik mesra

jangan buruburu ya sayang. jangan tergesagesa ya Ded?. Akupun segera mengendorkan serangan, menahan diri.

Dan 5 menit lagi berlalu. Lalu aku kembali mengambil inisiatif menjajaki menemukan titik lemah pertahanan Tante .

Aku gembira karena aku menguasai permainan dan lima menit lagi berlalu. Tante semakin tersengalsengal, rangkulannya di punggung dan mendukung erat. Dan aku tidak lagi melakukan penjajakan. Aku sudah tahu titik kelemahan pertahanannya. Karena aku masuk ke tahap serangan yang lebih hebat. Penggerebekan di depan gawang. Penisku sudah lebih sering masuk tiga perempat dari dasar liang kenikmatan Tante . Setiap Tante menggelinjang. Dia pererat rangkulannya dan dengan nafas tersengal dia kejar mulutku dengan mulut dan lidah kamipun kembali berlumatan dan kerkucupan.

Ded, bisiknya. Punyamu panjang sekali.
Memek Tante tebal dan enak sekali, kataku balas memuji dia.

Dan pertempuran sengit dan panas itu berlanjut lima lalu sepuluh menit lagi. Lalu geliat Tante semakin menggila dan ini menyebabkan saya semakin gila pula. Aku tidak lagi menahan diri. Aku melepaskan kendali syahwat berahiku selepasnya.

Kutusuk dan kuhunjamkan kepala kontolku sampai ke pangkalnya berkalikali dan berulangulang ke dasar rahimnya sampai akhirnya Tante tidak sadar berteriak

ooohhhhhh . Aku terkejut, cepat kututup mulutnya dengan tangan, takut kedengaran orang, apalagi kalau dengar oleh ibuku di sebelah.

dan demikian pompaanku yang dahsyat tidak berhenti. Dan saat itulah kurasakan tubuh Tante berkelojotan sementara mulutnya mengeluarkan suara lolongan yang terputus oleh tanganku. Dia orgasme hebat sekali.

Sudah Ded, Tante sudah tidak kuat lagi, dengan nafas panjang setelah mulutnya berkata kulepas dari bekapanku. Kulihat ada keringat di hidung, di kening dan pelipisnya. Wajah itu juga terlihat letih sekali. Aku lalu memperlambat kocokanku. Tapi senjataku masih tertanam kuat di memek tebalnya.

Enak Tante?, bisikku.
Iya enak sekali Ded. kamu jantan. Sudah ya? Tante capek sekali, katanya membujuk agar aku melepaskannya.

Tapi mana aku mau? Aku belum keluar, sementara batang kelelakianku yang masih keras perkasa yang masih tertancap dalam kenikmatannya sudah tidak sabaran hendak melanjutkan pertempuran.

Sebentar lagi ya Tante, kataku meminta , dan dia mengangguk mengerti.

Cerita sex, cerita mesum, cerita dewasa

Lalu aku melanjutkan melampiaskan kocokanku yang tadi sore. Kusenggamai dia lagi sejadijadinya dan berahinya naik kembali, kedua tangannya kembali merangkulku, mulut kembali menerkam mulutku.

Lalu sepuluh menit aku tak dapat lagi mencegah air maniku menyemprot berkalikali dengan hebatnya, sementara dia berteriak tertahan dalam lumatan mulut dan lidahku. Liang vagina berdenyutdenyut memamerkan dan memerah spermaku dengan hebatnya seperti tadi. Kakinya mendekap panggul dan pahaku.

Persetubuhan nikmat diantara kami ternyata berulang dan berulang dan berulang lagi saban ada kesempatan atau tepatnya peluang yang dimanfaatkan.

Suami Tante Om Joko punya hobbi main catur dengan Bapakku. Sedangkan luluk sering keluar mala mama pacarnya Kalau sudah sepi. Itulah kesempatan yang kami gunakan. Aku datangi terus Tante yang biasanya menolak tapi akhirnya mau juga.

Empat bulan kemudian sebelum Tante Mei ternyata hamil. Aku khawatir kalaukalau bayinya nanti hitam. Kalau hitam tentu bisa gempar. Karena Tante Mei itu putih. Ternyata Saat lahirnya Buah Permainanku, kelahiran Cwe Putih seperti ibunya, walaupun wajah mirik denganku menjadikan aku lega sedikit lega.

Joker338