Cerita Sex Kewanitaan Tika Yang Mengencang

Posted on
MPO878

Cerita Seks Kewanitaan Tika Yang Mengencang – Ada seorang laki-laki yang bernama Putra dan dia merupakan seorang bahwahankudikantor dan dia berasal dari Bandung yang sebenarnya tidak jauh dari kota J. Dari segi kehidupan suami istri ini sudah bisa di bilang berkecukupan dengan di bantu dengan seorang pembantu wanita Surti, dengan usia kurang lebih diatas Putra 3-4 tahun. Putra sendiri berumur 19 tahun jalan.  Suatu hari nyonya majikannya yang masih muda, Ibu Tika atau biasa mereka memanggil Bu Tika, mendekati mereka berdua yang sedang sibuk di dapur yang sedang dapur

“Surti.., besok Bapak hendak ke Aceh lagi. Tolong siapkan pakaian secukupnya..” perintahnya.
“Kira-kira berapa hari Bu..?” tanya Surti rasa hormat.
“Cukup lama.. mungkin hampir satu bulan.”
“Baiklah Bu..” tukas Surti mahfum.

Agen878

Bu Tika segera melewati Putra yang membersihkan kamar tersebut. Dia menilai ketika Putra memperhatikan.

Ibu Tika itu masih muda, paling tua mungkin sekitar 32 tahun, begitu Surti pernah cerita kepadanya. Mereka belum lama menikah dan termasuk lambat karena keduanya sibuk belajar dan pekerjaan. Namun setelah menikah, Bu Tika lebih banyak di rumah. Walaupun sifatnya hanya sementara, sekedar untuk jeda istirahat saja.

Dengan perawakan langsing, dada besar sekitaran 36B, hidung mancung, bibir tipis dan Bokongnya yang bulat kenyal serta kaki yang lenjang, Bu Tika terkesan angkuh dan anggun. Namun jika dia seorang yang baik hati dan dapat memahami kesulitan hidup orang lain.

Namun Putra tahu pasti Surti lebih dekat dengan majikannya, karena mereka sering bercakap-cakap di dapur atau di ruang tengah bila waktunya senggang. Beberapa hari kepergian Bapak ke Aceh, Put tanpa sengaja menguping pembicaraan kedua wanita tersebut.

“Itulah Nah.. kadang-kadang belajar perlu juga..” suara Bu Tika terdengar agak geli.
“Di kampung memang terus terang saya pernah Bu..” Surti tampak agak bebas menjawab.
“O ya..?”
“Iya.. kami.. sst.. pss..” dan seterusnya Putra tidak dapat lagi menangkap isi pembicaraan tersebut. Hanya kemudian terdengar tawa berderai mereka berdua.

Mulai jangan lupa percakapan yang menimbulkan tanda tanya karena kesibukannya setiap hari. membersihkan halaman, merawat tanaman, memperbaiki kondisi rumah, pagar dan sebagainya yang perlu ditangani. Hari demi hari berlalu begitu saja. Hingga suatu ketika, Putra terkejut ketika dia tengah beristirahat di kamarnya.

Tiba-tiba pintu terbuka, “Kriieet.. Blegh..!” itu pintu segera menutup lagi. Dihadapannya kini Bu Tika majikannya berdiri melawan pandangan yang tidak dapat ia mengerti.

“Putra…” suaranya agak serak.
“Jangan kaget.. gak ada apa-apa. Ibu hanya perlu ada sedikit lagi..”
“Maaf Bu..!” Putra cepat-cepat mengenakan kaosnya.

Barusan dia hanya bercelana pendek. Bu Tika diam dan memberi kesempatan Putra mengenakan kaosnya hingga selesai. Nampaknya Bu Tika sudah dapat menguasai diri lagi. Dengan mimik biasa dia segera menyampaikan maksud kedatangannya.

Foto-Igo

“Hmm..,” dia melirik ke pintu.
“Ibu minta kamu nggak usah cerita ke siapa-siapa. Ibu hanya perlu meminjam sesuatu darimu..”
Kemudian dia segera melemparkan sebuah majalah.
“Lihat dan cepatlah ikuti perintah Ibu..!” suara Bu Tika agak menekan.

Agak gelagapan Putra membuka majalah tersebut dan menemukan berbagai gambar yang menyebabkan langsung mencarinya. Meski orang kampung, dia mengerti apa arti semua ini. Apalagi jujur​​​​​dia memang tengah menginjak usia yang sering kali dibangun di tengah malam bayangan dan hawa yang menyesakkan dada bila baru menonton TV atau membaca artikel yang sedikit nyerempet ke arah “itu”.

Sejurus mengamatinya Bu Tika yang tengah bergerak menuju pintu. Beliau mengenakan kaos hijau ketat, sementara bawahannya berupa rok yang agak longgar warna hitam agak berkilat entah apa bahannya. Segera tangan putih mulus itu menggerendel pintu.

Kemudian.., “Berbaringlah Put.. dan celanamu celanamu..!”
Agak ragu Putra mulai membuka.
“Dalemnya juga..” agak jengah Bu Tika mengucapkan itu.
Dengan sangat malu Putra melepaskan CD-nya. Sejenak kemudian terpampanglah kontolnya ke atas.

Lain dari pikiran Putra , ternyata Bu Tika tidak segera ikut membuka pakaiannya. Dengan wajah menunduk tanpa mau melihat ke wajahnya, dia segera bergerak naik ke atas tubuhnya. Putra merasakan pengalaman hebat ketika mereka merasakan.
Tanpa mengorbankan bagian tubuhnya, Bu Tika berusaha melakukan persetubuhan dengannya. Putra menghela nafas dan mengeluarkan ludah ketika tangan lembut itu memegang

alatnya dan, “Bleesshh..!”

Dengan badan bergetar antara lemas dan kaku, Putra sedikit menahan geli dan menikmati kenikmatan barangnya dilumat oleh daging yang hangat nan nyaman itu. Dengan masih menunduk Bu Tika mulai menggoyangkan pantatnya. Tangannya menepis tangan Putra yang secara naluriah hendak merengkuhnya.

“Hhh.. ehh.. sshh.. ” melihat Bu Tika menahan nafasnya.
“Aakh.. Bu.. saya.. saya nggak tahan..” Putra mulai mengeluh.
“Tahann Kemana.. Kemana-mana saja..!” Bu Tika tampak agak marah mengucapkan itu, keringatnya mulai bermunculan di kening dan hidungnya.

Sekuat tenaga Putra menahan aliran yang hendak meledak di ujung peralatannya. Di atasnya Bu Tika terus berpacu.. bergerak semakin liar hingga dipan tempat mereka berada ikut berderit-derit. Makin lama makin cepat dan akhirnya muncul Bu Tika mengejang, kepalanya ditengadahkan ke atas lehernya yang putih.

“Aaaahh..!”
“Plis..!” tiba-tiba Bu Tika di pantatnya dari tubuh Putra. Dia segera berdiri, merapihkan gambar dan roknya yang tersingkap sebentar.
“Jangan cerita kepada siapapun..!” katanya, “Dan bila kamu belum selesai, kamu bisa puaskan ke Surti..

Putra terhenyak di atas kasurnya. Sejenak dia berusaha menahan degup jantungnya. Diambilnya nafas dalam-dalam. Sambil menghargai tenaga yang dirasakan di ujung penisnya yang terasa mau menyembur cepat itu. Setelah bisa tenang, dia segera bangkit, mengenakan pakaiannya kemudian masalah-masalah.

Perlakuan Bu Tika berlanjut tiap kali suaminya tidak ada di rumah. Selalu dan selalu tinggalkan Putra dalam keadaan menahan gejolak yang menggelegak tanpa penyelesaian yang layak. Beberapa kali Putra ingin menginginkan seks ke Surti, tetapi selalu diurungkan karena ragu-ragu, apakah semuanya benar-benar diatur oleh majikannya atau hanya alasan Bu Tika untuk memberikan balasan kepadanya.

“Kriieet..!” ternyata Bu Tika

Nampak segera melangkah masuk kamar. Malam ini beliau mengenakan daster merah jambu bergambar bunga atau daun-daun apa Putra tidak jelas mengamatinya. Karena segera merasakan napasnya, kerongkongannya tercekat, dan udaranya terasa asin. Wajahnya terasa tebal tak merasakan apa-apa.

Agak terburu-buru Bu Tika segera menutup pintu. Tanpa bicara dia menganggukkan kepalanya. Putra segera paham. Dia segera menarik tali saklar di tempat dan melihat ruangannya menjadi remang-remang lampu 5 watt warna kehijauan. Sementara menunggu Putra melepas celananya, Bu Tika tampak menyapukan pandangannya ke seantero kamar.

“Hmm.. anak ini cukup rajin membersihkan kamarnya..” pikirnya.

Tapi segera terhenti ketika melihatnya “alat pemuasnya” itu sudah siap. Dan.., kejadian itu berulang kembali untuk kesekian kali. Setelah selesai Bu Tika segera berdiri dan merapihkan pakaiannya. Dia hendak beranjak ketika tiba-tiba mengeluarkan sesuatu.

“Oh Ibu lupa..” terhenti ucapannya.

Putra Berpikir.. kurang apa lagi..? Jujur dia mulai tidak tahan untuk mengatasi keinginan seks setiap kali ditinggal begitu saja, ingin meraih pinggang seksi itu setiap kali ingin keluar dari pintu.

Lanjutnya, “Hmm.. Surti pulang kampung pagi tadi..” dengan wajah agak masam Bu Tika segera mengurungkan langkahnya. “Rasanya tidak adil kalau hanya Ibu yang dapat. Sementara kamu tertinggal begitu saja karena tidak ada Surti..”

Putra hampir keceplosan bahwa selama ini dia tidak pernah melanjutkan dengan Surti. Tapi segera.dikuncinya kuat-kuat Dia merasa Bu Tika akan memberinya sesuatu. Ternyata benar.. Perempuan itu segera menyuruhnya untuk berdiri.

“Terpaksa Ibu melayani kamu malam ini. Tapi ingat.., jangan sentuh apapun. Kamu hanya boleh melakukannya sesuai dengan yang Ibu lakukan..”

Kemudian Bu Tika segera duduk di tepi ranjang. Diraihnya bantal untuk ganjal kepalanya. Sejurus kemudian dia membuka pahanya. berita segera mengungkapkan Putra dan dirinya.

“..” Putra tergagap. Tak mengira akan diberi kesempatan seperti itu.

“Degh.. degh..” Putra agak kesulitan memasukkan kontolnya.

Karena selama ini dia memang pasif. Sehingga tidak ada pengalaman memasukkan sama sekali. Tapi dia merasakan nikmat yang luar biasa ketika kepala penisnya menyentuh daging lunak dan bergesekan dengan rambut game Bu Tika yang tebal itu. Hhh..! Nikmat sekali. Bu Tika menggigit bibir. Ingin rasanya menendang bocah kurang ajar ini.

Tapi dia segera menyadari ini semua dia yang memulai. Badannya menggelinjang menahan geli ketika dengan agak paksa namun tetap pelan Putra berhasil memasukkan penisnya (yang memang keras dan lumayan itu) ke peralatan rahasianya.

Beberapa saat kemudian Putra secara naluriah mulai menggoyangkan pantatnya maju mundur.
“Cep.. klep.. klep..!” bunyi penisnya beradu dengan vagina Bu Tika yang basah muntah setelah persetubuhan pertama tadi.
“Plak.. plak.. plakk..,” kadang Putra terlalu kuat menekan sehingga pahanya beradu dengan paha putih mulus itu.

“Ohh.. enak sekali..” pikir Putra.
Dia merasakan kenikmatan yang lebih lagi dengan posisi dia yang aktif ini.
“Ehh.. shh.. okh..,” Putra benar-benar tak kuasa lagi untuk menutupi rasa nikmatnya.

Hampir beberapa keadaan berlangsung seperti itu. Sementara Putra selintas melihat wajah Bu Tika mulai memerah. matanya terpejam dan dia melengos ke kiri, kadang ke kanan.

“Hkkhh..” Bu Tika berusaha menahan nafas.

Mulanya dia berfikir pelayanannya hanya akan sebentar lagi karena dia tahu anak ini pasti diujung “konak”-nya. Tapi ternyata, “Huoohh..,” Bu Tika merasakan otot-otot kewanitaannya tegang lagi menerimaan kasar dari Putra. Dia berusaha keras untuk tidak terbangkitkan hasrat seks nafsunya.

Dia benar-benar sudah lupa siapa wanita yang dihadapannya ini. yang terfikir adalah keinginan untuk cepat mengeluarkan sesuatu yang terasa deras mengalir dipembuluh darahnya dan ingin segera dikeluarkannya..!!”Ehh..” Bu Tika tak mampu lagi membendung hasrat seks nafsu nya.

Baca Juga :  Certa Dewaa Keperawananan Mitha Yang Telah Koyak

Daster yang tadinya dipegangi agar tubuhnya tidak tersingkap banyak sehingga terlepas dari tangan, sehingga kini tersingkap jauh ke atas pinggang. melihat pemandangan ini Putra semakin terangsang. Dia mengamati memeknya yang serba hitam, kontras dengan tubuh putih mulus di atas yang mulai menggeliat-geliat, sehingga menyebabkan video batang-batang semakin teremas-remas.

“Ohh.. aduh.. Bu..,” Putra mengerang kenikmatannya.
Yang jelas Bu Tika tak akan karena beliau sendiri berjuang melawan rangsangan yang dekat ke puncaknya.
“Okh.. hekkhh..” Bu Tika menegang, tenaga tenaga dia menahan diri, tapi sodokan itu benar-benar kuat dan tahan.
Diam-diam dia kagum dengan stamina anak ini.

“Aaakkhh..!” dia mengerang nikmat. Orgasmenya yang kedua dari si Putra malam ini.

Sementara si Putra pun sudah tak tahan lagi. Saat paha mulus itu menjepit pinggangnya dan kemudian pantat wanita itu diangkat, penisnya benar-benar seperti dipelintir hingga, “Cruuth..! asik.. asik..!” memcar cairan kental dari sana. Putra merasakan nikmat yang luar biasa. Seperti kencing namun terasa enak campur gatal-gatal bagaimana.”Ohk.. ehh.. hh,” Putra terkulai.

Tubuhnya bergetar dan dia segera mundur dan memainkan penisnya kemudian duduk di kursi sebelah meja di kamarnya. Wajahnya menengadah sementara secara alami melawan terus meremas-remas penisnya, menunggu sisa cairan yang ada disana. Ooohh.. enak sekali..

“Berapa jam biasanya kamu melakukan ini dengan Surti, Putra..?” tanya Bu Tika menyelidik.
Putra terdiam. Apakah beliau tidak akan marah kalau dia berterus terang..?
“Kenapa diam..?”
Putra menghela nafas, “Maaf Bu.. belum pernah.”
“Hah..!? Jadi selamat ini kamu..?”
“Iya Bu. Saya hanya diam saja setelah Ibu pergi.”
“Oo..,” Bu Tika melongo.

Sungguh tidak terlupakan sama sekali kalau itu yang selama ini terjadi. Alangkah tersiksanya selamat ini kalau begitu. Aku ternyata egois juga. Tapi..?, masa aku harus melayaninya. Apapun dia kan hanya pembantu. Dia hanya butuh batang muda-nya saja untuk memenuhi hasrat sex nya yang menggebu-gebu terus itu. Selama ini bahkan suami dan pacar-pacarnya pernah mengetahuinya. Ini rahasia yang tersimpan rapat.

“Hmm.. baiklah. Ibu minta kamu jangan ceritakan ke siapapun. Sebenarnya Ibu sudah bicara sama Surti mengenai masalah ini. Tapi ternyata kalian tidak nyambung. Ya sudah..yang penting sekali lagi, pegang rahasia ini erat-erat.. mengerti..?” kembali suaranya berwibawa dan bikin segan.

“Mengerti Bu..,” Putra menjawab penuh rasa rikuh.

Joker338