Cerita Sex Ngentot Dengan Anak Muda Yang Kaya Raya

Posted on
MPO878

Cerita Seks Ngentot Dengan Anak Muda Yang Kaya Raya – kami sambil berpandangan dengan puas dan tangan kanan kami saling meremas dengan tangan kiriku, saya tidak tahu apa artinya, apakah ucapan terima kasih, pujian ataukah janji untuk berulang kali apa yang telah kami lakukan. Setelah beristirahat, Mbak Sa mengambil tisu dan membersihkan cairan kental yang bisa dilepotan di perutku dan cairan saya. Mbak Sa memmbersihkannya dengan mesra dan bercanda sambil meremas dan membangunkan kembali rudal saya.

“Mbak. Jangan digoda lagi lho, kalau ngamuk lagi gimana..?” kataku bercanda.
“Coba aja kalau berani, siapa takut..!” sambil meniru iklan di TV.
Setelah membersihkanku, dia juga membersihkannya dengan tisu, dan memakai kembali CD-nya, merapihkan rok, blus dan BH-nya yang kusut. Sementara saya juga merapihkan kembali celana saya.

Agen878

Dia menyisir wajah, dan merapikan kembali riasan wajahnya, sambil melirik dan tersenyum ke saya bahagia.

“Mbak.., besok tetap lho ya jam sepuluh pagi.” saya mengingatkan.
“Pasti donk, mana sih yang nggak pengin sarang burungnya dimasukin burung.” canda dia.
“Apalagi sarangnya sudah kosong lama ya Mbak..?” godaku.
“Pasti enak kok kalau udah lama.” jawab dia.

Setelah kami semua rapi, Mbak Sa aku antar dengan tetap berdekapan, dia pulang di dadaku, tangan kiri saya untuk mendekap dia dan tangan kanan saya untuk pegang stir.
Sesampainya di rumah MBak Sa, cuaca masih gerimis. Mbak Sa menawarkan untuk mampir sebentar di rumah.

“Gila, masuk dulu yuk..! Aku buatkan kopi hangat kesukaanmu.” ajak Mbak Sa.
“Oke dech, aku parkir dulu mobilnya ya..?”
Sampai di dalam rumah Mbak Sa, ternyata Vino tidak ada. Menurut Bi Inah, pembantu Mbak Sa, katanya Vino hari ini tidak akan pulang, karena diminta atasannya dinas ke luar kota.
“Gila, ternyata Vino malam ini nggak pulang. Kamu tidur aja disini, di kamar Vino.” pinta Mbak Sa sambil senyum penuh arti.
Aku tahu kemana arah pembicaraan Mbak Sa.
“Tidak mau kalau tidur di kamar Vino, aku takut sendiri.” godaku.
“Emangnya takut sama siapa..?”
“Ya takut kalau Mbak Sa nanti nggak nyusul ke kamarku.”
“Ssstt..!Jangan keras-keras, nanti ada yang denger.” Mbak Sa cemberut, takut kalau ada yang dengar.
“Ya udah, aku tidur sendiri di kamar Vino, kalau nanti malam saya dimakan semut, jangan heran lho Mbak..!” saya pura-pura merajuk.
“Tidak usah ribut, mandi sana dulu, nanti malam kalau semua orang sudah tidur, kamu boleh nyusul aku ke kamar, nggak saya kunci kamarku.” bisik Mbak Sa pelan.
“Siip dach..!” aku ceria dan langsung pergi mandi.

Habis mandi, badan saya teras segar kembali. Saya langsung pergi ke kamar, pura-pura tidur. Tetapi di dalam kamar saya membayangkan apa yang akan saya lakukan nanti setelah berada di kamar Mbak Sa. Saya akan bercinta dengan orang yang sudah bertahun-tahun saya idamkan.

Jam di kamar saya menunjukkan pukul 12:30 malam. Kudengarkan kondisi di luar kamar sudah terlihat sepi. Tidak terdengar suara apapun. TV di ruang keluarga juga sudah dimatikan Bi Inah kira-kira jam 11 tadi. Bi Inah adalah orang yang terakhir menonton TV setelah acara Srimulat yang merupakan acara kegemaran Bi Inah. Untuk mempelajari suasana, saya keluar pura-pura pergi ke kamar mandi. setelah benar-benar sepi, saya mengendap-endap masuk ke kamar Mbak Sa.

Lampu di kamar Mbak Sa remang-remang. Mbak Sa tidur telentang dengan mengenakan daster tipis yang semakin memperindah lekuk tubuh Mbak Sa. Tubuh Mbak Sa yang mungil tapi padat berisi, terlihat tampak sempurna dibalut daster tersebut. Dengan tidak sabar saya dekap tubuh Mbak Sa yang sedang telentang landasan yang sedang menunggu pesawatnya mendarat.Mbak Sa saya dekap hanya tersenyum sambil berbisik,

“Sudah nggak sabar ya..?”
“Ya Mbak, perasaan waktu kok berjalan pelaan sekali..”

Saya cium belakang telinganya yang mungil dan ranum, kemudian ciuman saya bergeser ke pipinya dan akhirnya menemukan yang mungil dan juga ranum. Kedua tangan Mbak Sa mendekap erat di leher saya. Tangan saya yang kiri saya letakkan di bawah kepala Mbak Sa untuk merangkulnya. Sedangkan tangan kanan saya gunakan untuk membelai dan sekitarnya sekitar susunya. Dan dengan perlahan dan lembut, telapak tangan saya gunakan untuk meremas-remas lingkaran luar payudaranya, dan ternyata Mbak Sa sudah tidak memakai BH lagi.

Erangan-erangan lembut Mbak Sa mulai keluar dari sini, sedangkan kedua kaki bergerak-gerak menandakan birahinya mulai timbul. Remas-remasan saya di seputar susunya mendapatkan reaksi balasan yang cukup baik, karena kekenyalan susu Mbak Sa semakin meningkat. Tangan kanan saya geserkan ke bawah, sebentar lagi menyentuhnya, beralih ke pusarnya, dan akhirnya saya gunakan untuk mengusap kewanitaannya. Ternyata Mbak Sa juga sudah tidak memakai CD, sehingga tayangannya yang bulat dan mononjol, serta merasakan rambut itu dapat saya rasakan dari luar dasternya.

Foto-Igo

Kedua kaki semakin melebar, kesempatan seluas-luasnya memberikan tangan saya untuk membelai-belai kewanitaannya. Ciuman saya beberapa tiba di sana, kemudian saya alihkan turun ke lehernya, ke belakang telinganya, dan akhirnya turun ke bawah, melewati celah di bukit kembarnya. Saya ciumi lingkaran luar bukit kembarnya, sebelum akhirnya menyiumi puting susunya yang mengacung. Ketika lidah saya menyium sampai ke putingnya, nafas Mbak Sa tampak mengangsur, menunjukkan kelegaan.

“Uuuccghh.. Rahmad..!”

Tali daster yang menggantung di pundaknya, saya pelorotkan sehingga menyembullah kedua bukit kembarnya yang kenyal, dengan kedua putingnya yang mengacung dan tegang. Saya ciumi sekali lagi kedua bukit kembarnya, dan saya jilati putingnya dengan lidah. Sementara kedua tangan saya secara bersamaan saling membelai kedua selangkangannya, kadang-kadang diselingi dengan kami, kontak luarnya dengan telapak tangan kanan saya. Belaian ini memberikan kehangatan di bibir kewanitaannya, selain itu untuk meningkatkan rasa penasaran liang senggamanya.

Jari tengah saya gunakan untuk mebelai-belai bibir luar interaksinya yang sudah sangat basah. Saya usap klitorisnya dengan lembut dan pelan dengan menggunakan ujung jari, membuat Mbak Sa semakin menikmati belaian lembut klitorisnya. Bibir kewanitaannya semakin merekah dan semakin basah.
Lidahku masih menari-nari di kedua putingnya yang semakin keras, jilatan lidah saya memberikan sensasi yang kuat bagi Mbak Sa. Terbukti dia semakin meremas rambut saya, deru nafasnya semakin memburu dan lenguhannya semakin kencang.
“Uuuccgghh.. Rahmad.. uugghh.. eennaaggkk..”

Saya jilati menempatkannya di kanan dan kiri secara bergantian, sambil meremasi dengan lembut tetapi sedikit menekan kedua susunya dengan kedua tangan saya.
Setelah saya puas diciumi susunya, ciuman saya geser ke arah perutnya, saya jilati pusarnya, kembali Mbak Sa sedikit menggelinjang, mungkin karena kegelian. Ciuman terus saya geser ke bawah, ke arah pahanya, turun ke bawah betisnya, terus naik lagi ke atas pahanya, kemudian ciuman saya arahkan ke rambut yang lebat. Mendapat ciuman di rambut, kembali Mbak Sa menggelinjang-gelinjang. Saya buka bibir seputarnya yang merekah, saya ciumi dan jilati bibir kewanitaannya, terus lidah saya diusapkan ke klitorisnya, dan secara bergantian saya gigit, kadang-kadang saya hisap klitorisnya.

Setiap sentuhan lidah saya menjilat pada klitorisnya, tangan Mbak Sa menjambak rambut saya. kepala-geleng, dengan dada yang dibusungkan, kedua kakinya mendekap erat leher saya, dan kicaunya semakin tidak karuan, “Uuuccgghh.. Rahmad.. uughh.. ggeellii.. uuff.. ggeellii.. seekkaallii..”
Cairan yang keluar dari semangatnya semakin banyak, bau khas senggamanya semakin kuat. Rintihan, lenguhan yang keluar dari mulut Mbak Sa semakin kacau. Gerakan-gerakan tubuh, kaki dan gelengan-gelengan kepala Mbak Sa sangat kencang. Dadanya tiba-tiba dibusungkan, kedua kakinya tegang dan menjepit kepala saya. Saya mengerti kalau saat ini detik-detik orgasme akan segera melanda Mbak Sa.
Untuk memberikan tambahan sensasi kepada Mbak Sa, maka kedua putingnya saya usap-usap dengan kedua jari tangan, dengan mulut tetap menyedot dan keberadaan klitorisnya, maka tiba-tiba,

“Aaauughh.. Rahmad aakk.. kkuu.. kkeelluuarr.. Aaacchh..!”
Saya tetap di klitorisnya. Dan dengan nafas masih terengah-engah, Mbak Sa bangun dan duduk.
“Ayo Rahmad.., gantian kamu tidur aja telentang..!” kata Mbak Sa sambil menidurkan saya telentang.

Gantian Mbak Sa telungkup di samping saya. Tangannya yang lembut sudah mulai mengelus-elus batang video saya yang sudah sangat tegang. Mulutnya yang mungil mencium bibir, terus turun ke puting. Saya merasa sedikit kegelian ketika dicium puting saya. mulutnya terus turun ke pusar, dan saya merasakan ada rasa hangat, basah dan sedikit sedotan sudah menjalar di rudal saya. Ternyata Mbak Sa mulai mengocok dan mengulum kejantanan saya. Mbak Sa mengulumnya dengan penuh nafsu. terpejam tapi kepalanya turun untuk mengocok rudal saya.

Kepala acara saya dijilatinya dengan lidah. Tekstur lidah yang lembut tapi sedikit kasar, seolah-olah pada ujung jari kaki saya terasa ada getaran listrik yang menjalar di seluruh kepala. Jilatan lidah di kepala rudal memang sangat enak. Aliran listrik terus menerus menjalar di sekujur tubuh saya. Kepala Mbak Sa yang naik turun mengocok kejantanan saya yang saya bantu pegangi dengan kedua tangan.

Kocokannya semakin lama semakin kuat, dan mulutnya seolah-olah batang meremas-remas seluruh keperkasaan saya. Seluruh pori-pori tubuh saya seolah-olah tidak bergetar dan bergolak. Getaran-getaran yang menjalar dari ujung kaki dan ujung rambut kepala, seolah mengalir dan bersatu menuju satu titik, yaitu ke arah rudal keperkasaan saya.

Getaran-getaran tersebut semakin hebat, akhirnya saya seolah-olah seolah-olah menahan gejolak udara. Lama-lama latihan videoku seolah jebol, dan tiba-tiba saya berteriak.

“Mmmbbakk Yaattii.. aaggkkuu kkkelluuaarr..!”

Mendengar saya mengerang mau, mulut Mbak Sa tidak mau melepaskan batang kejantanan saya, tetapi malah kulumannya dipererat. Mulut Mbak Sa menyedot-nyedot cairan yang keluar dari rudal saya dengan lahapnya, seolah-olah tidak boleh ada yang tersisa. Batang video saya dihisap-hisapnya seolah-olah seperti es lilin. Sensasinya sungguh sangat dahsyat. Ternyata Mbak Sa sangat ahli dalam permainan lisan.
Nafas saya sedikit tersengal, badan sedikit lemas, karena seolah-akan semua cairan yang ada di tubuh, mulai dari ujung kaki sampai dengan kepala, habis keluar tersedot oleh Mbak Sa.

Mbak Sa tersenyum puas sambil menggoda, “Gimana rasanya..?”
“Waduh.., Mbak luar biasa..” jawabku sambil masih terengah-engah.
“Jangan kalahkan dengan yang muda..?” kata Mbak Sa dengan berbangga.
“Yaa jelas yang lebih pengalaman donk yang lebih nikmat.”

Kami istirahat sambil minum. Tetapi ternyata Mbak Sa memang luar biasa. Baru istirahat beberapa menit, mulai bergerak-gerak di perut, di paha dan di selangkangan saya, geli di sekujur tubuh. Tangannya kembali meremas-remasbatang video saya. Karena masih darah muda, maka hanya sedikit sentuhan, lagu saya langsung berdiri dengan gagahnya mencari sasaran. Melihat batang keperksaan saya dengan cepatnya berdiri lagi, wajah Mbak Sa tampak berseri-seri. Sambil mengarahkan tetap mengocoknya, kami saling berciuman.

Bibir Mbak Sa yang mungil memang sangat merangsang semua laki-laki yang melihatnya. Ciuman yang lembut dengan usapan-usapan tangan saya ke arah putingnya, membuat birahi Mbak Sa juga cepat naik. Putingnya seolah-akan menjadi tombol birahi. Begitu meletakkan Mbak Sa disenggol, lenguhan nafasnya langsung mengencang, kedua kaki bergerak-gerak, pertanda birahinya menggebu-gebu. Saya usap liang senggamanya dengan tangan, ternyata liang kenikmatannya Mbak Sa sudah sangat basah.

“Gila bener cewek ini, cepet sekali birahinya..,” pikir saya dalam hati.
Mbak Sa menarik-narik punggung saya, seolah-akan memberi kode agar senjata rudal saya segera dimasukkan ke sarangnya yang sudah lama tidak dikunjungi burung pusaka.

“Ayo dong Gila..! Cepetan, Mbak sudah nggak tahan nich..!”

Baca Juga : Cerita Sex Fantasi Birahi Saat di Tiduri Guru Mesum

Alat vital saya sudah tegang, dan saya sudah tidak sabar untuk merasakan Mbak Sa yang mungil. Saya sapukan perlahan-lahan kepala kejantanan saya di bibir kewanitaannya. Kelihatan sekali kalau Mbak Sa menahan nafas, tandanya agak tegang, seperti gadis yang baru pertama kali main senggama. Setelah menyapukan kepala rudal saya beberapa kali di bibir, nikmatilah dan di klitorisnya. Akhirnya saya masukkan burung saya ke sarangnya dengan sangat perlahan.

Kedua tangan Mbak Sa meremas pundak saya. Kepalanya sedikit miring ke kiri, matanya terpejam dan mulutnya sedikit terbuka sangat seksi sekali, tandanya Mbak Sa sangat menikmati proses masuk kejantanan saya ke liang senggamanya. Lenguhan lega terdengar ketika perilakuku membentur di dasar liang kenikmatannya. Saya diamkan beberapa saat rudal saya terbenam di liang senggamanya untuk memberikan kesempatan pada Mbak Sa merasakan kenikmatan dengan baik.

Saya pompakan batang kejantanan saya ke liang senggama Mbak Sa dengan metode 10:1, yaitu sepuluh kali tusukan hanya setengah dari seluruh panjang batang kejantanan saya, dan satu kali tusukan penuh seluruh batang kejantanan saya sampai membentur ujung rahimnya. Metoda ini membuat Mbak Sa merancau tidak karuan.

Setiap kali tusukan, saya kocok-kocokkan kejantanan saya beberapa lama, akhirnya saya merasakan kaki Mbak Sa saya penuh kuat di pinggang saya. Kedua tangan mencengkram punggung saya, dan mengangkat mengangkat membusung, seluruh bagian pinggang mengencang, diikuti dengan lenguhan panjang, “Aaauugghh.. aauugghh.. Rahmad.. aakku.. kkeelluuaa.. aa.. rr..!”
Batang pohon saya sangat basah dan dicengkram sangat kuat. Merasakan remasan-remasan pada rudal saya yang sangat kuat, membuat pertahanann saya juga seolah membuat jebol dan akhirnya, “Ccrroot.. croot.. crrot..!” saya juga keluar.

Setelah permainan itu, saya sering melakukan hubungan seks berkali-kali, bisa seminggu dua kali saya melakukan hubungan seks dengan Mbak Sa. Ternyata nafsu seks Mbak Sa cukup besar, jika satu minggu saya tidak bermain seks dengan Mbak Sa, pasti Mbak Sa akan main ke rumah, atau setelah bekerja, dia akan menelepon saya di kantor untuk meminta jatah.

Saya melakukan hubungan seks dengan Mbak Sa dimana saja, asalkan tidak mendukung. Baik di rumah saya, di rumah dia, di hotel, di mobil, di garasi, di kamar mandi sambil berendam di bath-tub, di dapur sambil berdiri, bahkan aku pernah bermain seks di atas kap mobil saya.

Ternyata berhubungan seks itu jika dengan perasaan agak takut dan terlalu terburu-buru, memberikan pengalaman tersendiri yang menyenangkan.

Joker338