Cerita Sex Ngentot Sama ABG Tetangga

Posted on
MPO878

Cerita Seks Ngentot Sama ABG Tetangga – Waktu itu aku sedang dalam perjalanan pulang ke rumahku saat aku liburan kuliah waktu itu dan amat -sangat mellelahkan. Selain itu karena saking padatnya jalanan gara-gara musim liburan sekolah, hujan lebat juga terus mengguyur sepanjang perjalanan. Tapi membayangkan hangatnya kamarku membuat saya mampu menembus hujan deras di atas motorku. Beberapa jam kemudian sampailah aku di gang rumahku. Gang itu tadinya hanya sebuah kebun, kini berdiri tiga rumah di keun itu. Rumahku, rumah pak Jono di belakang rumahku dan rumah pak Rahman di samping rumahku.

Hujan turun deras saat aku buka gerbang rumahku dan melihat Dian, anak perempuan tertua pak Rahman duduk di depan rumahnya. Ia tampak kedinginan di bangku depan rumahnya. Kuhampiri dia dan bertanya. “Dian, ngapain kok di depan rumah aja? Baru pulang sekolah ya?”

Agen878

“Iya, mas. Aku baru pulang persami. Tapi ternyata bapak, ibu & adik2ku pergi ke luar kota mengunjungi pak Kunci rumah yang aku pegang hilang waktu persami, jadi aku bingung harus ke mana. Mau ke rumah mas, bapak dan ibu mas juga sedang ke luar kota. au ke rumah pak Jono, ternyata nggak ada siapa2. Mau ke rumah teman tapi hujan deras” Jawab sambil memandangku.

Pandangan mata sungguh cantik. Dian memang cantik. Di umurnya yang belasan, tubuhnya terbilang ranum. Di SMU tidak, ia dikenal sebagai sorang kembang sekolah.

Karena saya pun menawarinya basah kuyup, sementara hujan deras, saya pun berbasa-basi menawarinya untuk berteduh di rumahku. Di luar dugaan ku ternyata dia setuju.Tanpa banyak bicara, kubukakan gerbang dan pintuku dan mempersilahkannya duduk di ruang keluarga. Ruang yang cukup hangat.

Foto-Igo

Di sekolah dan masuk sambil kedinginan lalu aku tersadar, ternyata pakaian yang dikenakannya basah kuyup. Lekuk2 tubuhnya terlihat jelas karena pakaiannya menempel menempel. Sempat terlintas dalam pikiran ingin yang membangunkan hasratku. Tapi cepat2 kusingkirkan pikiran itu. Besar resikonya kalau “makan” anak tetangga itu sendiri, hehehe.

Segera kuambilkan handuk, kaos, celana training dan jaket dan kuberikan. Dian, ganti aja dulu. Kalau perlu mandi aja sekalian di kamar mandi depan ya. Aku mandi di kamar mandi belakang.” Dian pun mengangguk.

Sekilas terbersit di pikiranku, ada kemungkinan Dian akan menanggalkan pakaian dalamnya dan hanya mengenakan pakaian yang aku berikan. Pikiran nakal dan bayangan tubuh indah yang sedang mandi di kamar mandi depan terus membayangi otakku. Sehingga aku pun tidak dapat menahan diri untuk onani membayangkan nikmatnya tubuh Dian.

Lima belas kemudian menit, terdengar telepon. Kuangkat dan ternyata ibuku menyuruhku meminta Dian menginap di rumah saja. Ternyata orangtua Dian menelepon orangtuaku dan menitipkan Dian pada mereka. Ah!!! Pikiran setanku semakin menari-nari. Kusampaikan pesan orangtuaku dan orangtuanya pada Dian.

“Ya udah, kamu tidur aja di kamar tengah, kamar tamu. Kalo butuh apa2 atau pengen makan ambil aja sendiri” Kataku.

“Iya mas makasih. Aku nonton sinetron dulu ya. Boleh kan?” Jawabnya.

“Boleh dunk. Oiya, aku laper, sekalian aku bikinin mi instan ya?” Tanyaku

“Aku bantuin deh mas” Katanya.

Akhirnya di dapur, kami berdua menyiapkan mi instan istimewa. Istimewa buatku, karena ruang dapur yang sempit membuat tubuh kami beberapa kali saling “bersentuhan”. Beberapa kali buah dan pantatnya yang lembut di punggungku. Gila! Tertutup jaketpun buah masih begitu membentuk. Akupun mulai kewalahan untuk menutupi batangku yang mulai berdiri.

Selesai masak, kami menyaksikan makan di ruang keluarga sambil tivi. Sementara di luar sana, hujan deras dan guntur masih terus mendera. Mi hangat, hujan deras, dan gadis cantik…benar-benar liburan sempurna, pikirku.

Dian memang seorang kembang, Bukan hanya karena kecantikan dan kemolekan tubuhnya, tapi juga karena kecerdasannya. Ngobrol dengannya benar-benar mengasyikkan. Sebegitu asyiknya sampai dia tak canggung mencubit dan bersandar pada sembari terpingkal2 menanggapi lelucon2ku. Ini tentu saja membuatku semakin terpinggirkan di balik batangku yang semakin bersemangat. Hingga akhirnya DUARRR, terlihat kilat dan guntur yang sangat keras disusul padamnya lampu. Dian berteriak dan memelukku. “Mas, aku takut gelap” Jeritnya. “Iya, tenang, tenang ya. Mas cari lilin dulu” Kataku berusaha sambilnya memegang tangannya. Karena gelap, memegang tangganya, malah malah meleset ke depan. Padat dan lembut. kebenciannya membuat Dian tidak peduli dan terus memelukku. ”Tidak usah, mas. Aku takut” rengeknya. Akhirnya aku pun memeluknya sambil mengelus-elusnya. nafsuku semakin memuncak.dan usapanku turun ke pantatnya dan berganti menjadi remasan yang engarah ke selangkangannya.

Dian terpekik dan mendorongku, tapi aku tarik dan perketat pelukanku. Dian terus saja mendorongku dan ia semakin panik ketika tidak sengaja menyentuh selangkanganku. Dia menyentuh batangku yang berdiri sempurna. “Lepasin, mas” Pekiknya. Tapi nafsuku sudah di ubun2. sehingga bukan melepaskannya, tapi aku mendorongnya merebah, dan menindihnya. Kuciumi dia yang memukuliku. Aku tak peduli, saja kuciumi lehernya dan teruskan yang ternyata tidak memakai apa2 lagi selain kaos dan jaket yang aku berikan. Kulepaskan ikat pinggangku dan dengan susah payah kuikat kedua melawan ujung sofa. Dian scream minta tolong, tapi derasnya hujan dan petir yang bersahutan menelan jeritannya. Jaket ritsleting kubuka yang dikenakannya, dan menyingkap kaos yang menutupi bagian depan. Tepat ketika kaosnya berhasil kusingkap, lampu kembali menyala.

Airmata yang meleleh di pipinya menambah kecantikan Dian. Buah yang putih, besar dan padat tertutupi lagi, menantang dengan coklat muda yang berlari, menantang karena menantang karena menghadap ke atas. Kubuka seluruh pakaianku sambil menindihnya dan terus menikmati buah-buahan di sekitar. Kuremas2, kupilin2 putingnya, kuciumi, gigit, hisap dan jilati kedua buah dada beserta putingnya sampai putingnya menegang dan memerah. Dian terus saja meronta dan menangis, tapi beberapa menit kemudian ia tidak lagi berteriak, bahkan mendesah ketika aku meremas dan memasangnya.Perlahan kuselipkan tanganku ke balik celana trainingnya, yang seperti dugaanku, ia tidak mengenakan apapun di baliknya sehinga aku bisa menyentuhnya semak2nya dan menekan bukit kecil di baliknya.

Kurasakan vagnya telah basah. Kuusap2 dan gesek klitorisnya dengan jari tengahku. Dian pun menggeliat dan melenguh lembut saat jariku menari2 di klitorisnya. Tubuh Dian bergetar hebat saat aku menekan dan menggesekan jariku kuat=kuat di klitoris dan vagnya. Kutarik lepas celananya, Dian tersentak dan merapatkan kakinya. Ia menendang-nendang pembohong namun justru dengan mudah bisa menangkap dan kurentangkan. Kutindih Dian, dan kuletakkan batangku persisten di depan klitorisnya, kutekan dan gesekkan kepala batangku ke klitorisnya yang basah dan hangat itu. Dian kembali meronta, namun tidak lama kemudian rontaannya gelinjang nikmat, dan pekikannya lenguhan serta desahan yang membuat membangkitkan semangat meremas buah dada, menjilati dan meningkatkan puting dan menggesekkan batangku pada klitorisnya.

Baca Juga :  Cerita Sex Desahan Mira Kawan Istriku

Perlahan kurasakan Dian mulai pasrah, kaki mulai meregang, gelinjangannya kini seirama dengan menundukkan kepala batangku. Perlahan-lahan memanggilku “Massss, mas boleh ngapain aja, tapi jangan dimasukkin. Aku masih perawan, mas.” Bisiknya sambil sesenggukan. “Kenapa, Dian? percaya, mas bertanggungjawab. orang yang ingin kamu juga menikmati ini sampai puncak” Jawabku sambil menempatkan kepala batangku di depan vagnya. “Tidak, mas! Jangan! Ooooh, nggaaaak, Dian nggak mauuu!” Jeritnya. “Oooh, sakit mas, sakit, aaah, oooh!!!” Pekiknya ketika perlahan kudorong batangku memasuki liang sempit yang licin dan hangat. Dian meronta, namun gerakannya malah membuat batangku semakin meningkat dan dalam sampai ke pangkalnya.

Oooh, nikmatnya. Kurasakan bau anyir darah perawan yang membuat batangku ketika dengan seperlahan dan selembut mungkin kutarik batangku keluar, hanya sedikit gerakan yang kubuat untuk meminimalkan rasa sakit Dian. Dan sepertinya gerakanku tepat, karena petualangan Dian mulai berubah menjadi desahan, meski ia masih meronta dan menangis. Makin lama kurasakan semakin rapat menjepit batangku, tapi juga semakin licin, maka semakin cepat ayunan pinggulku yang membuat batangku semakin deras menghunjam dan tertarik dari vag Dian.

Dian mengelinjang dan mendesah mengikuti irama pompaanku. Ia tidak lagi menangis, Dian kini malah terpejam-pejam dan menggigit tawa. Buah luar biasa tampak indah berguncang setiap kali kutusukkan batangku dalam2. Seksi sekali. Semakin cepat ku pompa batangku di dalam vagnya. Desahannyapun kini berubah menjadi erangan nikmat. Perlahan kulepas. Dan mengarahkan tangan untuk menggapai-gapai dan mencengkeram erat sofa lalu memeluk yang sedang memeluk dan jilati putingnya. Disembunyikannya wajahnya terlihat semakin menikmati perkosaan ini. Hingga akhirnya tubuhnya mengejang, dan kurasakan vagnya menggenggan kuat batangku. Kupercepat ayunanku, sampai akhirnya aku tidak lagi dapat menahan diri untuk menyemburkan air maniku di dalam liang vagnya. “Aaaah, Diaaaan, kamu nikmat sekali, sayang!” bisikku sambil mengulum daun telinganya. Kutarik batangku perlahan dan setelah lepas, mengalir keluarlah air maniku melalui lubang untuk dinikmati Dian. Dian telentang lemas karena kehabisan nafas dan menguras seluruh tubuh. Kupeluk tubuh indah dan ciumi wajah cantiknya.

Perlahan ku usap wajah Dian, dan menyeka airmatanya. Kucium kening dan senang. Dian mendorongku pelan, dan berbisik “mas, bener kan mau bertanggungjawab?” “Ya sayang” Jawabku. Dianpun memelukku yang segera kubalas dengan pelukan dan pagutan di sini. Dia pun membalasku. “Malam ini Dian punya Mas, Mas boleh nikmatin tubuh Dian sepuasnya” Bisiknya sambil memelukku. Kugendong ia ke kamar, dan malam itu, ditemani hujan deras yang turun sepanjang malam, kembali ku”perkosa” Dian. Kusetubuhi Dian berkali-kali sampai menjelang fajar.

Joker338